Headlines News :
Home » » Bidadari Merah 8

Bidadari Merah 8

Ditulis Oleh: MuTiaRa MawAr uNGu | Senin, 04 Oktober 2010 | 02:29 WIB | 1 comments




Serial Topeng Kaca:
Bidadari Merah 8
Pengarang : Suzue Miuchi
Penerbit: Elex Media Komputindo
ISBN: 979-663-209-8
EAN: 979-20-0982-2
Tahun Terbit: 1999
Halaman: 201


Pengen Memiliki Komik Ini? Klik Di Sini...


Sinopsis Cerita

Saatnya untuk Bidadari Merah Baru

Seusai memerankan Bidadari Merah, Bu Tsukikage terduduk lemah di balik panggung. Darah segar mengalir keluar dari mulutnya dan jatuh menetes pada topeng Bidadari Merah. Anak-anak teater Tsukikage dan Ikakuji yang melihat hal itu terkejut dan menjadi khawatir. Sementara di luar panggung, semua penonton bertepuk tangan dengan meriah sekali setelah menyaksikan pertunjukan Bidadari Merah Bu Tsukikage yang luar biasa itu. Genzo terkejut kagum ketika mendengar suara tepuk tangan para penonton yang bersahut-sahutan dan tanpa berhenti itu. Sesaat kemudian, Bu Tsukikage yang semakin lemah akhirnya jatuh pingsan. Dalam ketidaksadarannya itu, Bu Tsukikage seakan dibawa ke masa lalunya. Tidak berbeda dengan sekarang, beliau seperti sedang berada di tengah riuhnya tepuk tangan para penonton yang takjub dan terkesima menyaksikan Bidadari Merahnya. Dan saat bayangan Ichiren muncul kembali, Bu Tsukikage akhirnya tersadar dengan tiba-tiba. Saatnya curtain call pun tiba dan Bu Tsukikage kembali muncul ke panggung dengan iringan gendang Genzo. Lagi-lagi tepuk tangan terdengar bersahut-sahutan ketika para penonton melihat Bu Tsukikage sudah berdiri di atas panggung. Bu Tsukikage terlihat sangat gembira dan wajahnya bersinar, bahkan tidak nampak kalau baru saja kondisi kesehatan beliau sempat memburuk. Anak-anak teater Tsukikage dan Ikakuju benar-benar dibuat tidak percaya dengan perubahan yang sangat cepat pada diri Bu Tsukikage.

"Dia hanya sedang berakting. Akting terakhir sebagai bintang. Peran terakhirnya Bintang Besar yang Abadi, Tsukikage Chigusa. Semangatnya sulit dipercaya." kata Rei memberikan penilaian tentang Bu Tsukikage.

Di suatu tempat di antara penonton, Pak Eisuke benar-benar tidak bisa menahan lagi melihat Bu Tsukikage. Melihat penampilan Bu Tsukikage lagi seperti barusan, itu adalah keinginan Pak Eisuke selama bertahun-tahun dan sekaligus bisa menghancurkan perasaan Pak Eisuke, karena dari penampilan Bu Tsukikage semakin jelas terlihat betapa Bu Tsukikage sangat mencintai belahan jiwanya yang tidak lain adalah Ichiren. Tentu saja hal itu sangat menghansurkan perasaan Pak Eisuke yang selama ini selalu diam-diam memendam perasaannya kepada Bu Tsukikage. Pak Eisuke akhirnya meminta Sugimoto, pegawainya, untuk segera membawanya pergi dari panggung itu sebelum perasaannya semakin hancur.

"Saudara-saudara sekalian, terima kasih banyak. Badan saya sudah semakin lemah dibanding dengan kondisi waktu memerankan Bidadari Merah saat masih muda dulu. Walau dengan perasaan sungkan, saya tetap mengundang Anda sekalian kemari. Dan sandiwara yang diperankan oleh saya sendiri tampaknya begitu terkesan memaksakan diri, tapi Anda sekalian tetap bersabar menontonnya hingga selesai. Kata terima kasih tidaklah cukup untuk membalasnya. Ini adalah terakhir kalinya saya memerankan Bidadari Merah. Setelah saya menyelesaikan akting ini, banyak hal yang tiba-tiba muncul di kepala saya. Waktu latihan, Ichiren Ozaki selalu memarahi saya. Semua ini membuat putus asa. Waktu saya mendapat tepuk tangan meriah di hari pertama pertunjukan dan saat saya jatuh yang hanya sekali itu. Kisah cinta si Bidadari Merah telah menjadi kisah cinta saya. Perasaan hati Akoya di panggung adalah perasaan hati saya sendiri. Kata-kata Akoya adalah kata-kata yang ingin saya ucapkan, kata-kata cinta yang tak berbalas. Cinta adalah persatuan dengan jiwa sang kekasih. Saling terikat itulah cinta. Melalui pementasan ini, saya dibuat mengerti akan hal itu. Pekerjaan, kedudukan, umur, kasta sama sekali tak ada hubungannya, semua terpusat hanya pada jiwa sang kekasih seperti tarikan pasangan magnet. Dan saat jiwa sang kekasih dan jiwa kita bersatu, kita hanya ada satu. Di dunia ini banyak orang yang tak punya kesempatan untuk mengalami hal seperti ini, itu tak jadi masalah. Sampai suatu saat pertemuan itu datang, saling terikat, saling merasa dekat, apapun yang terjadi sudah tak bisa dipisahkan lagi, akhirnya dua jiwa bersatu. Begitu juga dengan Ichiren Ozaki. Beliau sudah punya istri dan amat memperhatikan keluarganya. Di luar itu dia amat mencintai saya dalam pekerjaan saya sebagai artis. Namun di sini saya bisa mengatakan dengan besar hati, bahwa berkat dunia panggung itulah saya dan Ichiren bisa saling terikat. Bukan melalui kata-kata, hati kamilah yang bisa saling mengerti satu sama lain, lebih dari siapapun. Kegembiraan, kesedihan, kepedihan lebih bisa saling kami rasakan. Kami terus saling mengisi seperti itu. Waktu aku di atas panggung, jiwaku dan jiwa Ichiren menjadi satu. Walaupun kami dua orang, tapi kami adalah satu. Biarkan hati kami saling terpisah, tapi jiwa kami bersatu. Walaupun kemudian Ichiren pergi ke dunia sana, dia tak pernah mati, dia tetap hidup dalam hati saya. Dari dalam hati saya, dia selalu memarahi dan memberi semangat pada saya. Sekarang pun Ichiren tetap bersama saya mungkin sampai ajal saya tiba."

Suasana panggung dan sekitarnya menjadi hening. Tidak ada suara lain yang terdengar selain suara Bu Tsukikage. Semuanya nampak mendengarkan setiap perkataan Bu Tsukikage dengan seksama.

"Bidadari Merah adalah jiwaku. Jiwa itulah yang ingin saya tinggalkan untuk Anda semua. Adalah merupakan keajaiban kalau saya yang lemah dan sakit-sakitan ini masih hidup sampai saat ini. Saya sekarang ini mirip sumbu lilin yang hampir habis terbakar. Sebelum nyalanya padam, saya ingin memindahkan apinya ke lilin yang lain."

Setelah itu Bu Tsukikage memanggil Genzo. Genzo datang sambil membawa sebuah penatah dan diberikannya kepada Bu Tsukikage. Bu Tsukikage mengayunkan penatah itu ke topeng Bidadari Merah dan memecahkannya hingga menjadi dua bagian. Semua penonton berteriak terkejut melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Bu Tsukikage.

"Seperti yang Anda lihat, topeng milik si Bidadari Merah yang lama sudah terbelah. Karena bila kita terus memakainya, sebuah hasil seni akan mati begitu saja. Yang lama jadi ilmu untuk kelahiran yang baru. Untuk membangun sesuatu yang baru, yang lama harus dihancurkan dulu."

Ternyata itulah alasan kenapa Bu Tsukikage memecahkan topeng Bidadari Merah. Kemudian Bu Tsukikage memanggil Maya dan Ayumi.

"Maya! Ayumi! Mulai sekarang kalian yang menciptakan topeng baru untuk si Bidadari Merah. Bidadari Merah yang akan kalian perankan pun harus lain dari yang pernah ada sebelumnya."

Maya dan Ayumi mengiyakan kata-kata Bu Tsukikage.

"Maya! Ciptakan topeng baru untuk dirimu sendiri. Ayumi! Buat topeng baru hanya untuk dirimu."

Kalimat terakhir Bu Tsukikage itu disambut oleh teriakan meriah dari para penonton. Mereka semua nampak memberikan dukungan untuk terciptanya Bidadari Merah yang baru. Dan tepuk tangan yang tiada kunjung berhenti mengakhiri pertunjukan hari itu.

Genzo berkata dalam hati dengan penuh kelegaan, "Selesai... Dengan ini semuanya selesai. Terima kasih, Nyonya Tsukikage Chigusa. Bidadari Merah adalah pujaan sepanjang hidup saya. Rasanya mimpi, saya diminta untuk berperan menjadi Isshin. Selama ini saya mendampingi Anda, tak dinyana hari ini akhirnya tiba juga. Hari dimana Tsukikage Chigusa terakhir kalinya menjadi Bidadari Merah dan saya, Genzo, telah menyelesaikan tugas."

Pertemuan Dua Belahan Jiwa

Sesudah pertunjukan Bu Tsukikage, hidangan sederhana sudah disiapkan untuk para tamu undangan. Dan mereka menikmatinya sambil mengagumi pohon plum serasa piknik di bawah pohon plum. Sementara panggung mulai dirapikan, Maya terduduk diam sambil masih terus memikirkan Bidadari Merah.

"Bidadari Merah... Jiwa abadi si pohon plum, roh seorang dewi yang bersemayam di alam raya. Dewi yang memberi kedamaian dengan mengubah alam yang gelap menjadi terang benderang... Bidadari merah... Topengku yang satu lagi... Apakah aku bisa mendalami cinta Bidadari Merah? Seorang kekasih, belahan jiwa kita yang lain."

Tiba-tiba bayangan Masumi muncul di pikiran Maya.

"Pak Masumi? Ah, masa sih! Masak manusia sejahat dia bisa menjadi belahan jiwaku. Itu pasti cuma mimpi buruk..."

Di tempat yang lain, Masumi juga tengah memikirkan tentang kekasih Bidadari Merah.

"Belahan jiwa... Jiwa yang seperti matahari dan bulan... Apa ada orang yang seperti itu untukku? Aku yang selalu merasa kesepian sejak kecil dan tak pernah menyayangi siapa pun hingga kini, yang tak pernah berterus terang atau berbicara dari hati ke hati dengan orang lain. Apa ada belahan jiwa bagi orang seperti aku? Seseorang yang walaupun saling diam, tapi hati saling bertaut..."

Saat melihat jubah Bidadari Merahnya Bu Tsukikage, Maya pun tidak bisa menahan diri untuk mencoba jubah itu. Dengan mengenakan jubah Bidadari Merah itu, Maya akhirnya menuju ke lembah plum, kampung Bidadari Merah. Dan ternyata Masumi juga berada di tempat itu. Sebelum mereka berdua menyadari keberadaan mereka satu sama lain, sebuah angin besar tiba-tiba bertiup.

"Apa ini? Kok tiba-tiba ada angin besar. Hah? Kabutnya berubah jadi sinar merah? Ah... masa bisa? Aku tahu kalau kabut di sini membaur dengan warna merah bunga plum... Tapi kenapa kok kelihatan penuh sinar di sana-sini? Tak mungkin terjadi!! Pasti mataku yang agak aneh..."

Di tengah ketidakpercayaannya itu, tiba-tiba Masumi melihat sekelebat bayangan di depannya seperti Bidadari Merah. Masumi sangat terkejut ketika ternyata yang berdiri di hadapannya kini adalah Maya, yang sesaat tadi seperti sosok Bidadari Merah. Maya akhirnya juga menyadari keberadaan Masumi. Mereka berdua saling bertatapan.

Kata Masumi dalam hati, "Kenapa mataku bisa salah lihat seperti itu? Aku betul-betul sudah menyangka Bidadari Merah hadir di sini! Maya...?"

Maya juga berkata dalam hatinya, "Pak Masumi...! Si Mawar Ungu... Kenapa ada di sini ?"

Maya dan Masumi saling berlari saling mendekat satu sama lain tanpa berkata-kata sedikit pun. Namun langkah mereka terhenti ketika kaki mereka sudah berada di tepi sungai. Ya... mereka berdua berdiri di tempatnya masing-masing yang terpisah oleh sungai.

"Aku... Aku memang gadis yang tak bisa apa-apa. Juga bukan gadis cantik yang umurnya di bawahmu, aku pun juga tidak kaya. Tapi aku mencintaimu lebih dari siapa pun, Pak Masumi. Aku mencintaimu..." kata Maya dalam hati. Setelah itu Maya mengucapkan dialog Akoya.

"Hari itu, saat pertama aku melihatmu di lembah... Akoya langsung bisa tahu bahwa kamu adalah belahan jiwaku yang terpisah. Waktu keadaan bumi masih kacau balau, Dewa melahirkan putra dan menurunkannya ke bumi. Saat itu jiwanya terpisah menjadi dua, yaitu gelap dan terang, lalu bersemayam di raga yang berlainan. Hingga suatu saat, gelap dan terang bersatu memberi damai. Manusia menjadi Dewa demi kelahiran jiwa-jiwa yang baru. Nenek mengatakan bahwa orang itu akan punya kekuatan ajaib, kekuatan untuk menarik jiwa yang lain. Waktu, bentuk, kedudukan, tak ada hubungan, yang ada hanya saling tertarik untuk mempersatukan jiwa yang terpisah. Serasa gila hanya karena ingin cepat menarik jiwa yang lain untuk segera bersatu. Inilah cinta. Tak peduli nama atau waktu, bertemu untuk hidup bersatu. Hanya itu yang dituju. Buanglah nama dan masa lalumu, buatlah Akoya hanya menjadi milikmu, wahai kekasihku."

Dalam hati Maya berharap agar Masumi menjawab harapannya. Namun Masumi kebingungan sendiri mengartikan kata-kata Maya.

"Maya... Apa maksud semua ini? Mau apa anak ini? Maya... Kamu...? Ah masa sih? Tidak... tidak mungkin!"

Maya mengulurkan tangannya ke arah Masumi yang berdiri di seberang sungai. Dalam hati Maya mengharap dengan sangat, "Ayo, cepat katakan, Pak Masumi! Katakan bahwa kau adalah si Mawar Ungu. Dengan demikian, aku..."

Masumi akhirnya mengulurkan tangannya juga dan sesaat setelah itu jiwa Masumi terlepas dari raganya dan begitu juga jiwa Maya lepas dari raganya. Jiwa Maya dan Masumi saling mendekat dan semakin dekat hingga akhirnya kedua jiwa itu saling berpelukan.

"Maya..."

"Kekasihku... Belahan jiwaku yang terpisah..."

Namun tak lama kemudian, kedua jiwa itu terpisah dan kembali ke raga mereka masing-masing. Dan hal itu membuat Maya dan Masumi menjadi bingung.

"Kenapa aku barusan? Khayalan? Tapi tadi rasanya aku betul-betul sudah memeluknya dan aku mendengar anak itu mengucapkan kata KEKASIHKU.. Aku betul-betul merasakan kehangatan pelukannya. Maya..."

"Kenapa aku barusan? Walau hanya sesaat, aku betul-betul merasa dipeluk Pak Masumi... Aku merasakan betul kehangatan pelukan Pak Masumi. Pak Masumi, kalau saja sungai ini tak ada, kalau saja..."

Tiba-tiba kebingungan Maya dan Masumi dipecahkan oleh suara seseorang yang sedang mencari Masumi, yang tidak lain adalah Shiori. Kedatangan Shiori benar-benar merusak suasana... Huhhh!!!!!

"Syukurlah! Aku sempat khawatir kamu tiba-tiba menghilang! Kamu sedang apa di tempat seperti ini ?"

Sesaat kemudian Masumi melihat ke arah tempat Maya berdiri tadi tapi anehnya Maya tidak berada di situ. Masumi semakin bingung dan tak henti-henti bertanya dalam hatinya.

"Sebetulnya kejadian tadi itu apa? Khayalan? Apa aku bisa melihat khayalan? Tapi kenapa sampai sekarang aku masih bisa merasakan kehangatan pelukan anak itu? Belahan jiwa yang terpisah... Apa mungkin? Apa mungkin semua itu terjadi ?"

Sedangkan Maya, ketika tadi menyadari kedatangan Shiori, cepat-cepat dia bersembunyi di balik pohon. Tak berbeda dengan Masumi, Maya pun juga tak henti-hentinya mempertanyakan tentang kejadian yang tadi baru saja dialaminya.

"Pak Masumi! Si Mawar Ungu... Belahan jiwa yang terpisah, milikku satu lagi... Tapi apa mungkin yang barusan itu terjadi? Rasanya kami mimpi dan bersentuhan. Apa hanya mimpi atau khayalan? Tidak! Tidak! Itu bukan mimpi atau khayalan! Hati kami bersatu! Walau sesaat, tapi rasanya bahagia sekali. Pak Masumi... Jangan-jangan dia juga merasakan hal yang sama? Tak mungkin! Tapi... mungkin saja... Pak Masumi, aku tak bisa menyeberangi sungai itu... Kalau saja aku punya keberanian sedikit, aku pasti sudah menyeberanginya. Kalau saja aku punya keberanian... Pak Masumi..."

Kembali ke Kehidupan Sehari-hari

Pagi itu beberapa orang sudah berkumpul di hotel tempat menginap Pak Eisuke bermaksud untuk menjenguk Pak Eisuke. Mereka nampak khawatir ketika mengetahui Pak Eisuke pulang terlebih dahulu semalam. Pak Eisuke berdalih kalau pinggangnya agak nyeri semalam sehingga dia terpaksa pulang duluan. Sesaat kemudian, Pak Eisuke terkejut ketika tidak melihat putranya, Masumi, di kamarnya. Rasanya aneh jika Masumi masih tidur sampai sesiang itu.

"Tadi malam kelihatannya Pak Masumi tak bisa tidur. Makan paginya juga sedikit. Kami jadi khawatir."

Melihat Masumi tak juga keluar dari kamarnya, Shiori terus berusaha membujuk Masumi. Tapi Masumi malah menyuruh Shiori untuk pergi ke kamar ayahnya duluan. Sementara itu, Masumi masih terus terbayang kejadian semalam di lembah plum.

"Kenapa aku jadi begini? Tak bersemangat melakukan apapun. Yang terbayang hanya peristiwa kemarin malam. Rasanya saat itu aku berjumpa Bidadari Merah lalu Akoya... betul-betul kedengaran seperti sebuah pernyataan cinta. Tapi itu tidak mungkin! Anak itu membenciku murni dari hatinya, mana mungkin dia bisa jatuh cinta padaku? Kalau begitu... Semua itu hanya mimpi atau khayalan? Bagaikan dua magnet, hati saling tertarik kemudian bertaut. Sesaat rasanya jiwa kami seperti saling terikat. Apa betul hanya khayalan ?"

Dan ketika berada di kamar Pak Eisuke, Masumi tetap saja masih terlihat melamun, sampai-sampai dia tidak mendengar suara pelayan yang memanggilnya karena ada telepon untuknya. Setelah beberapa kali dipanggil, Masumi baru tersadar dan bangkit dari duduknya. Namun ketika hendak berjalan menuju telepon, kakinya menyandung gelas yang terletak di dekat tempat duduknya. Hal konyol yang selanjutnya dilakukan oleh Masumi adalah memegang gagang telepon dengan posisi terbalik. Terang saja tidak terdengar suara dari seberang meskipun Masumi berteriak sekeras apapun. Setelah selesai menerima telepon, Masumi duduk kembali dan langsung menenggak gelas yang ada di hadapannya tanpa menyadari kalau itu adalah gelas obat untuk ayahnya. Semua orang yang berada di ruangan itu hanya bisa melongo keheranan melihat tingkah Masumi yang tak seperti biasanya pagi itu. Sungguh sulit dipercaya, Masumi bisa bertingkah seperti itu.

Akhirnya Shiori dan yang lainnya pulang ke Tokyo, kecuali Masumi dan ayahnya yang masih tinggal.

To Be Continued.... :)


Klik Di Sini untuk Baca Komik Online
Share this post :
Tentang TopengKaca-Ku
TopengKaca-Ku lahir karena kecintaan yang begitu mendalam pada komik Topeng Kaca. Semoga TopengKaca-Ku bisa menjadi rumah bagi para Topeng Kaca Lovers khususnya yang ada di seluruh Indonesia. Thanks for visiting here
Jika teman-teman menyukai Artikel di TopengKaca-Ku, Silahkan klik di sini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu teman-teman akan mendapat info setiap ada artikel baru yang terbit di TopengKaca-Ku.

+ comments + 1 comments

10 Maret 2011 14.19

bisa ga saya mesan yg vol 8 aja?

Poskan Komentar

Mohon komentar dengan baik ya.
Komentar TANPA NAMA (Anonymous) kemungkinan tidak akan direspons.

Gunakan Name/URL jika tidak mempunyai Google Accounts
- Nama: Masukkan nama Anda dengan jelas
- URL: Masukkan alamat email atau link web/blog Anda atau link Facebook account Anda.

 
Copyright © 2010. TopengKaca-Ku - All Rights Reserved
Site Owner: Mutiara Mawar Ungu