Headlines News :
Home » » Bidadari Merah 2

Bidadari Merah 2

Ditulis Oleh: MuTiaRa MawAr uNGu | Senin, 04 Oktober 2010 | 02:57 WIB | 0 comments



Serial Topeng Kaca:
Bidadari Merah 2
Pengarang : Suzue Miuchi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Harga: PM/SMS
Stok Buku: 2 eksemplar
Kondisi:  
Second 90% Bersampul Rapi (2 eks.)




Sinopsis Cerita

Menuju Desa Kelahiran Bidadari Merah

Akhirnya hari keberangkatan Maya dan Ayumi ke desa kelahiran Bidadari Merah pun tiba. Kini Maya dan Ayumi ditemani oleh Ketua Persatuan Drama Nasional bersiap-siap untuk menaiki kereta. Namun sesaat sebelum kereta berangkat, Maya menjadi gundah. Dia ingin sekali menanyakan ke Pak Masumi apakah benar si Mawar Ungu itu adalah dirinya. Tanpa sadar Maya pun berlari mengejar Pak Masumi yang tadi juga berada di stasiun kereta. Namun sebelum sempat terkejar, Koji menarik tangan Maya dan berusaha untuk mengingatkannya bahwa kereta sebentar lagi akan berangkat. Hal itu pun menyadarkan Maya untuk menghentikan langkahnya mengejar Pak Masumi dan segera naik kereta. Koji yang melepas kepergian Maya pun mempunyai harapan yang sangat besar tentang Maya.

"Dia pergi... Maya si Bidadari Merah... Tak kuduga aku jadi lawan mainmu, meskipun ini baru pentas percobaan... Isshin yang jatuh cinta pada Bidadari Merah diperankan olehku... Cepatlah... Cepatlah kembali, Maya... Cepatlah kembali ke hadapanku segera..."

Sementara itu, di dalam kereta, Maya masih terus kepikiran Pak Masumi. Dia masih terus bertanya-tanya, apakah benar Mawar Ungu yang selama ini selalu mendukungnya adalah Pak Masumi. Rasanya Maya ingin kembali ke Tokyo untuk mendengar jawaban langsung dari Pak Masumi.

"Kalau aku bisa memerankan Bidadari Merah, apakah kau akan tulus berbahagia untukku? Walaupun di balik bayangan, kau selalu menyemangatiku. Mengapa hingga kini kau selalu baik padaku? Kenapa ?"

Lamunan Maya pun dibuyarkan oleh pertanyaan Ketua Persatuan Drama Nasional yang menanyakan bagaimana perasaan Maya dan Ayumi yang akan memerankan Bidadari Merah sebentar lagi. Ayumi mengatakan bahwa dia bahagia sekali bisa memerankan Bidadari Merah yang dikaguminya sejak kecil.Dia selalu mendambakan jadi Bidadari Merah sejak mendengar cerita dari ibunya. Ayumi juga merasa seperti mimpi bisa dibimbing langsung oleh Bu Mayuko untuk memerankan Bidadari Merah. Dalam hati, Ayumi bergumam bahwa apapun yang terjadi dia harus bisa karena dengan begitu, orang akan mengakuinya sebagai aktris yang mandiri. Dulu saingan Ayumi adalah ibunya sendiri namun kali ini saingannya tak lain adalah Maya Kitajima. Tak jauh berbeda dengan Maya, dia pun juga merasa seperti mimpi bisa memerankan Bidadari Merah.

"Sebentar lagi aku akan berakting jadi Bidadari Merah. Tak percaya rasanya aku bisa begini. Aku yang ceroboh, bodoh dan selalu membuat ibuku susah, sejak kecil menyadari kesenanganku berakting. Sejak itu... Mawar Ungu adalah pendorongku, hingga aku bisa begini... Pak Masumi..."

Maya terus teringat akan pengagumnya itu, Mawar Ungu, yang mulai diyakininya adalah Pak Masumi. Sementara itu, tanpa Maya sadari, Hijiri Karato, orang yang selama ini menjadi penghubung antara Maya dan Mawar Ungu ternyata tengah berada di dalam kereta yang sama dengannya. Sudah jelas, itu pasti karena perintah Mawar Ungu untuk mengawasi latihan Bidadari Merah di lembah Plum, sekaligus juga untuk mengawasi Maya.

Perjalanan ke kampung Bidadari Merah ternyata cukup jauh juga. Setelah sampai di Kyoto, mereka harus berganti kereta dan menempuh perjalanan lagi kurang lebih selama satu jam. Setelah itu, mereka ganti kereta lagi menuju Shimonoguchi selama setengah jam baru kemudian naik taksi selama satu jam ke gunung. Kurang lebih butuh enam jam dari Tokyo untuk sampai ke kampung halaman Bidadari Merah.

"Selamat datang." Begitulah kata Genzo menyambut kedatangan rombongan dari Tokyo itu. Selama perjalanan menuju tempat tinggal Bu Mayuko, Genzo menceritakan sedikit kisah tentang kampung kelahiran Ichiren Ozaki, penulis kisah Bidadari Merah. Konon kabarnya di sebuah kuil di desa itu, ada sebuah patung Buddha berbentuk bidadari. Patung itu dibuat dari kayu pohon plum merah yang sudah ada sejak zaman perang saudara dan dipuja oleh penduduk desa itu. Dan cerita Bidadari Merah terinspirasi oleh patung bidadari itu.

Beginilah ceritanya. Dahulu kala jauh di tengah hutan di sekitar jalan yang dilalui rombongan itu, ada sebuah lembah yang dijaga oleh para jin dan seekor naga. Mereka melindungi tempat tinggal seorang bidadari cantik. Bidadari itu adalah ratunya dunia roh. Dia mampu memberi energi pada tanah untuk menghidupkan berpuluh ribu tanaman, makanya dia disebut juga Dewi Tanah. Di lembah tempat bidadari tersebut, bunga plum tak pernah berhenti mekar. Namun daerah itu tak bisa dimasuki oleh manusia. Bagi yang melanggar, pasti dibunuh oleh jin penjaga. Di lembah itu juga, bidadari tersebut merubah dirinya menjadi sebatang pohon plum merah. Pada saat perang saudara itulah seorang pemahat datang menebang pohon jelmaan itu menjadi patung bidadari demi perdamaian dunia ini. Karena patung itu, Kekaisaran Utara-Selatan yang terpisah dan selalu perang akhirnya mengakhiri pertempurannya. Dan di kuil di desa itulah, patung itu disembah, namun tidak diperlihatkan ke depan umum.

Keesokan harinya...
Maya mendapati Ayumi sudah tidak ada di sebelahnya. Begitu juga dengan Pak Genzo, beliau juga tidak ada. Akhirnya Maya memutuskan untuk mencari mereka. Dalam perjalanannya, Maya mendengar suara gendang ditabuh. Maya penasaran dan berusaha menuju ke sumber suara itu. Sampai akhirnya Maya pun tiba di daerah terlarang seperti yang diceritakan Genzo kemarin. Karena teringat oleh cerita Genzo bahwa daerah itu dilindungi oleh para jin, Maya merasa sedikit takut. Tapi meskipun demikian, Maya memutuskan tetap pergi ke sana. Maya terkejut ketika menyaksikan kabut di tempat itu berwarna merah. Dan itulah yang membuat Maya akhirnya sadar bahwa dia telah sampai ke tempat yang dinamakan Lembah Plum Merah, lembah tempat Bidadari Merah berada, dimana bunga plum selalu mekar meski bukan musimnya. Suara gendang yang ditabuh pun semakin jelas terdengar, membuat Maya semakin penasaran mencari tahu. Hingga matanya berhenti pada sebuah sosok cantik yang tengah berdiri di dekat pohon plum merah.

"Bidadari Merah..."

Maya sangat terkejut menyaksikan sosok itu dan Maya pun tak henti-henti menatapnya. Tak berbeda dengan Ayumi yang ternyata juga tengah melihat sosok itu. Ayumi bahkan merasa tak ada tanda bahwa sosok yang dilihatnya itu adalah manusia. Hingga keterkejutan mereka terhenti, ketika seseorang di balik topeng sosok itu menyapa mereka.

"Selamat datang di Kampung Halaman Bidadari Merah, Maya, Ayumi..."

Ya dia adalah Bu Mayuko. Maya dan Ayumi sangat terkejut ketika tahu bahwa sosok bidadari yang dilihatnya tadi ternyata adalah Bu Mayuko. Ketua Persatuan Drama Nasional dan Pak Genzo pun ternyata juga berada di tempat itu dan Pak Genzolah yang menabuh gendang kecil tadi. Mereka semua pun akhirnya temu kangen, saling menanyakan kabar satu sama lain karena telah lama tak saling jumpa.

"Lembah ini sungguh ajaib... Selama setengah tahun, bunga plum terus berbunga seperti ini. Tak ada kaitannya dengan musim. Mungkin suhu yang tak pernah berubah membuat udaranya tetap. Selama di sini, hampir setiap hari... aku berlatih menjadi Bidadari Merah. Aneh... Dulu kupikir aku sudah menjiwai sepenuhnya peran ini, tapi bila setiap hari kulakukan seperti ini, selalu kutemukan hal baru. Gerakannya, mimik dan perasaan-perasaan Bidadari Merah, pengungkapannya... tampaknya peran ini tak akan bisa sempurna sampai akhir zaman. Kalian punya Bidadari Merah sendiri-sendiri. Lakukan dengan cara kalian dan sempurnakan Bidadari Merah milik kalian itu."

"Aku senang melihat pohon plum ini. Di sini Bidadari Merah bersemayam, kan? Aku bisa jadi roh pohon plum ini kan? Cantiknya... Bila memikirkan itu aku jadi begitu gembira. Seperti mimpi, aku bisa berakting jadi roh pohon plum secantik ini.."

Mendengar kata-kata Maya barusan, Ayumi merasa kaget. Manusia macam apa sebenarnya Maya itu? Bisa-bisanya dia gembira berakting jadi pohon plum, padahal Ayumi saja sudah gemetaran, dan belum yakin apakah dia bisa menjadi roh pohon plum itu.

"Bila melihatmu, aku seakan diberitahu bahwa semua usahaku selama ini tidaklah berguna. Kenapa ada anak sepertimu? Kenapa ?"

Meskipun Maya dan Ayumi sudah pernah mendengar sedikit cerita tentang Bidadari Merah dari Genzo, namun kali ini Bu Mayuko menceritakan kembali tentang Bidadari Merah.

"Zaman dahulu kala, waktu perang masih melanda negeri. Untuk perdamaian, Kaisar mengutus seorang pemahat untuk membuat patung bidadari. Pemahat itu mencoba berkali-kali tapi dia tidak puas juga. Bagaimana cara memahat patung bidadari yang berisi roh bidadari? Lalu ada yang memberitahu si pemahat itu bahwa di suatu tempat ada pohon bidadari plum yang berusia seribu tahun. Bila pohon itu dipotong dan dipahat jadi patung bidadari, pasti patung itu akan diisi oleh roh bidadari itu. Lalu si pemahat mulai mencari pohon itu. Si pemahat berjumpa dengan seorang gadis. Dia adalah roh pohon plum yang berusia seribu tahun."

Bu Mayuko sangat berharap selama berada di kampung itu, Maya dan Ayumi bisa mempelajari segala sesuatu tentang Bidadari Merah, bisa mengerti siapa Bidadari Merah dan bisa mengungkapkannya karena bila mereka mengerti Bidadari Merah maka mereka baru bisa memerankannya. Lalu Bu Mayuko pun menyuruh Maya dan Ayumi mencoba untuk menjadi pohon plum. Ayumi menggambarkan pohon plum dengan gerakan tubuhnya yang cantik sedangkan Maya hanya berdiri wajar layaknya sebuah pohon. Bu Mayuko cukup lama membiarkan Ayumi dan Maya berakting menjadi pohon plum. Karena itulah, Ayumi mulai merasakan pinggang dan kaki kanannya mulai sakit. Kedua tangannya semakin berat dan badannya kesemutan. Ayumi pun jadi berpikir kalau pohon betulan pasti tidak akan pernah merasakan apa yang Ayumi rasakan saat itu. Sesaat setelah itu Ayumi melihat ke arah Maya dan begitu terkejutnya Ayumi ketika melihat akting Maya. Maya terlihat begitu wajar dan mimik wajahnya tak berubah sama sekali. Sikap berdiri Maya pun terlihat biasa dan justru karena itulah Maya kelihatan persis seperti pohon. Tak lama kemudian, Bu Mayuko menyatakan akting Maya dan Ayumi sudah selesai. Kali ini Bu Mayuko meminta Ketua Persatuan Drama Nasional untuk memberikan penilaiannya.

"Sikap berdiri Ayumi memang cantik, tapi terlalu lama berdiri, sikap itu tak bisa dipertahankan. Pasti akan lelah, walaupun kamu tak suka. Sedangkan sikap Maya, lebih sederhana dan biasa. Walaupun lama, dia tetap bisa berdiri dan kelihatan seperti batang pohon dan semakin lama semakin mirip. Tapi kalau di panggung kan tak usah selama itu. Jadi, sikap cantik Ayumi bisa lebih menarik perhatian penonton."

Setelah mendengar kata-kata Pak Ketua itu, Maya mulai merasakan kurang percaya diri karena ternyata sikap Ayumi lebih menarik. Tak berbeda dengan Maya, Ayumi pun juga merasakan hal yang sama. Dia merasa sedih karena ternyata pohon plumnya akan kelihatan seperti manusia kalau harus memakan waktu lama sedangkan Maya malah sebaliknya. Ayumi menganggap Maya menakutkan dan Maya menganggap Ayumi hebat. Mereka berdua sama-sama mengakui kehebatan lawan mereka masing-masing.

"Tanah, matahari, udara, air... Memang alam diciptakan begitu sempurna. Peredaran energi membuat mereka tumbuh. Dalam sebulan ini ada empat hal yang aku ingin kalian pelajari yaitu angin, api, tanah dan air. Kalau kalian tak bisa memerankan itu, kalian tak bisa jadi Bidadari Merah. Dan soal pertama adalah angin. Pikirkan baik-baik, bagaimana menjadi angin. Bila sudah, aku akan melihatnya."

Kondisi Bu Mayuko sebenarnya belum pulih benar. Selama ini Bu Mayuko di-opname di rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Namun ketika tahu Maya dan Ayumi akan datang, Bu Mayuko melawan nasihat dokter dan bersikeras mau menjalani rawat jalan saja. Meskipun Genzo sangat mengkhawatirkan kondisi Bu Mayuko, namun Bu Mayuko berusaha untuk meyakinkannya.

"Aku akan hidup... Aku akan hidup untuk anak-anak itu sampai lahir Bidadari Merah."

Akting Angin

Latihan dari Bu Mayuko pun akhirnya dimulai. Soal pertama yang harus dipelajari oleh Maya dan Ayumi adalah angin.

To Be Continued :)
Share this post :
Tentang TopengKaca-Ku
TopengKaca-Ku lahir karena kecintaan yang begitu mendalam pada komik Topeng Kaca. Semoga TopengKaca-Ku bisa menjadi rumah bagi para Topeng Kaca Lovers khususnya yang ada di seluruh Indonesia. Thanks for visiting here
Jika teman-teman menyukai Artikel di TopengKaca-Ku, Silahkan klik di sini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu teman-teman akan mendapat info setiap ada artikel baru yang terbit di TopengKaca-Ku.

Posting Komentar

Mohon komentar dengan baik ya.
Komentar TANPA NAMA (Anonymous) kemungkinan tidak akan direspons.

Gunakan Name/URL jika tidak mempunyai Google Accounts
- Nama: Masukkan nama Anda dengan jelas
- URL: Masukkan alamat email atau link web/blog Anda atau link Facebook account Anda.

 
Copyright © 2010. TopengKaca-Ku - All Rights Reserved
Site Owner: Mutiara Mawar Ungu