Headlines News :
Home » » Dua Akoya 1

Dua Akoya 1

Ditulis Oleh: MuTiaRa MawAr uNGu | Sabtu, 23 Oktober 2010 | 16:40 WIB | 12 comments




Serial Topeng Kaca:
Dua Akoya 1
Pengarang : Suzue Miuchi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Terbit: 30 Maret 2011
ISBN: 9789792796742
EAN: 9789792796742
Halaman: 200


Pengen Memiliki Komik Ini? Klik Di Sini...


Sinopsis Cerita
Sumber: DreamsAddict
(Thanks to Paskalina Faidiban untuk referensi-nya)

Pertemuan Maya dan Masumi di Tempat Bu Tsukikage

Waktu itu Bu Tsukikage penasaran mengenai apa yang membuat Maya dan Masumi datang ke tempatnya pada waktu yang bersamaan. Tak berbeda juga dengan Maya dan Masumi yang sama-sama terkejut ketika mereka bisa bertemu di tempat Bu Tsukikage. Masumi menjelaskan bahwa kedatangannya ke tempat Bu Tsukikage untuk memastikan keadaan Bu Tsukikage dan Bu Tsukikage mengatakan bahwa setiap hari dokter datang untuk memeriksa kondisinya. Maya tidak bisa mengatakan kepada Bu Tsukikage kalau dia sebenarnya datang karena dia belum bisa memahami perasaan cinta Akoya. Maya tidak bisa mengatakan hal itu di depan Masumi sehingga akhirnya Maya beralasan bahwa kedatangannya adalah semata-mata untuk mengunjungi Bu Tsukikage. Bu Tsukikage menanyakan kepada Maya siapa yang memberitahukan tempat tinggalnya kepada Maya dan kemudian Maya menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang pria tua yang berkursi roda.

Ketika mendengar seorang pria tua berkursi roda, Bu Tsukikage dan Masumi menjadi terkejut. Namun setelah Maya mengatakan bahwa pria tua itu adalah seorang yang baik, ramah dan menyenangkan serta menyukai es krim cokelat, maka Bu Tsukikage dan Masumi mulai berpikir bahwa pria tua yang dimaksud Maya bukanlah Pak Eisuke. Setelah itu mereka bertiga meminum tehnya masing-masing.

Bu Tsukikage mulai membahas tentang Shiori. Ketika Masumi menikah nanti, tentu saja akan ada banyak hal-hal yang lebih penting untuk dipikirkan Masumi daripada memikirkan Bidadari Merah. Oleh karena itu, Bu Tsukikage sangat berterima kasih kepada calon istri Masumi itu. Masumi tertawa mendengar apa yang dikatakan Bu Tsukikage. Masumi juga tak menyangka kalau Bu Tsukikage akan berpikir bahwa dia akan menggunakan Shiori untuk tujuan bisnisnya. Kemudian Masumi mengatakan bahwa dia punya ketertarikan sendiri terhadap Bidadari Merah yang membuatnya ingin tetap berusaha mendapatkan hak pementasan, di luar keinginan ayahnya.

Maya tertegun pada kata "istri" yang tadi sempat dikatakan oleh Bu Tsukikage, saat itu dia menyadari betapa bodohnya dirinya sampai-sampai dia bisa berpikir kalau Masumi itu bisa menjadi belahan jiwanya. Jelas-jelas Masumi sudah mempunyai Shiori sebagai calon istrinya dan selama ini Masumi hanya menjadi penggemar rahasianya, tidak lebih dari itu. Maya pun bangkit berdiri dengan wajah yang terlihat sangat pucat dan sedih. Ketika Masumi hendak menolong Maya, Maya menolaknya dan mengatakan kepada Masumi untuk berhenti bersikap baik kepada Maya.

Bu Tsukikage semakin penasaran, apa yang sebenarnya membuat Maya datang ke tempatnya. Rasanya tidak mungkin kalau Maya hanya sekedar ingin mengunjunginya, maka akhirnya Bu Tsukikage pun menanyakan hal ini kepada Maya. Kali ini Maya menjawab dengan sebenarnya bahwa dia datang karena ingin mengetahui tentang belahan jiwa Akoya. Mendengar itu, Masumi spontan terkejut. Masumi bertanya dalam hatinya, bagaimana mungkin alasan kedatangan Maya ke tempat Bu Tsukikage serupa dengan alasan kedatangannya juga yang ingin mengetahui tentang belahan jiwa.

Maya benar-benar ingin tahu tentang belahan jiwanya yang lain tetapi Maya mengatakan kalau dia tidak akan pernah menemukannya di dunia ini. Kemudian Maya menatap Masumi dan mengucapkan selamat karena dia telah beruntung bisa bertemu dengan belahan jiwanya yang lain, yaitu Shiori. Sesaat kemudian, Maya berteriak bahwa dia tidak akan pernah menyerahkan Bidadari Merah kepada orang seperti Masumi. Seusai berteriak, Maya langsung berlari meninggalkan tempat Bu Tsukikage.

Setelah mendengar alasan Maya datang ke tempatnya, sekarang Bu Tsukikage menanyakan hal serupa kepada Masumi, mengapa dia datang menemuinya. Masumi mengatakan bahwa alasannya tidak berbeda dengan Maya, karena dia ingin tahu tentang belahan jiwa. Mendengar apa yang dikatakan Masumi, tentu saja hal itu membuat Bu Tsukikage tidak bisa menahan tawanya. Bagaimana mungkin seorang gila kerja yang bisa melakukan apa saja dengan segala cara itu, datang menemuinya hanya ingin tahu tentang belahan jiwa, rasanya siapapun yang mendengarnya tidak akan percaya dan akan tertawa seperti Bu Tsukikage saat itu. Dan Bu Tsukikage menganggap apa yang dikatakan Masumi saat itu tidaklah serius.

Ayumi Bersikeras Tidak Mau Menyerah

Saat ini Ayumi sedang berada di rumah sakit dengan perban menutupi kedua matanya. Dia benar-benar tidak bisa menerima keadaannya saat itu. Dia terus berusaha berjalan tapi selalu saja terjatuh. Bibi yang merawatnya sejak kecil akhirnya membantu Ayumi berdiri dan kembali ke tempat tidurnya, tapi Ayumi bersikeras untuk tetap pergi berlatih meskipun dengan kondisi seperti itu. Ayumi tidak bisa berhenti memikirkan tentang latihan Bidadari Merahnya.

Dokter menyarankan Ayumi untuk beristirahat dahulu sampai hasil tes kesehatannya keluar. Tapi Ayumi tidak bisa tenang. Dia tidak mau kalau sampai ibunya tahu kondisinya saat itu. Selain itu, Ayumi juga teringat kepada Maya. Akhirnya Ayumi melepas perban itu dari matanya dan dia ternyata masih bisa melihat meskipun pandangannya tidak begitu jelas.

Hayami Tua dan Hayami Muda

Masumi Hayami dan ayahnya, Eisuke Hayami sedang sarapan di ruang makan. Eisuke menanyakan tentang kunjungan Masumi tempo hari ke tempat Bu Tsukikage. Masumi teringat kata-kata Maya kemarin di tempat Bu Tsukikage, namun dia tidak menceritakan kepada ayahnya dan mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di tempat Bu Tsukikage. Masumi menanyakan sepertinya ayahnya tertarik untuk mengetahui kondisi Bu Tsukikage, tetapi ayahnya mengelak dan berdalih bahwa dia hanya tertarik pada hak pementasan Bidadari Merah. Eisuke menjelaskan kalau sampai hak pementasan Bidadari Merah diserahkan kepada Maya, maka akan menjadi masalah untuk Daito.

Masumi menjawab pernyataan ayahnya, bahwa dia tahu kalau Maya sangat membencinya seperti halnya Bu Tsukikage membenci ayahnya.Dalam hati, Masumi membandingkan nasibnya dengan nasib ayahnya dan akhirnya mengerti penderitaan ayahnya karena cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Sesaat kemudian Masumi berdiri hendak meninggalkan ruangan, tetapi sebelum berlalu, Masumi menanyakan apakah ayahnya menyukai es krim cokelat. Mendengar pertanyaan Masumi, ayahnya hampir saja tersedak dan langsung menyangkal marah. Masumi pun langsung percaya dengan jawaban ayahnya karena memang tidak mungkin ayahnya bisa bersikap seperti yang diceritakan Maya. Melihat Masumi akhirnya percaya, Eisuke pun menjadi lega karena rahasia Eisuke masih tersimpan dengan rapi. :)

Maya menjadi Murung

Rei dan Maya sedang sarapan di apartemennya. Namun pagi itu Maya terlihat murung sekali, bahkan matanya merah karena kurang tidur semalam, atau mungkin dia tidak tidur sama sekali. Selera makannya pun juga berkurang tak seperti biasanya. Akhirnya Rei mengantar Maya ke stasiun untuk pergi ke tempat latihan. Karena Maya sering terlihat melamun, dia hampir saja ketinggalan kereta yang menuju ke tempat latihannya.

Latihan oleh Pak Kuronuma

Di Studio KIDS. Maya sedang mengucapkan dialog Akoya. Namun di tengah-tengah dialognya, Pak Kuronuma menghentikan Maya karena Pak Kuronuma merasa Maya kurang menghayati dialognya. Sementara Maya sendiri juga menyadari bahwa dia merasa kesulitan mengucapkan dialog Akoya tersebut. Maya tidak mengerti apa maksud kata-kata Akoya.Sementara itu, Koji juga sedang dirundung ketidakpercayaan diri. Dia merasa tidak pantas menjadi saingan Akame yang sudah berpengalaman dalam drama klasik. Kekhawatiran dan kegelisahan Koji ini membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dalam berlatih.

Pak Kuronuma menegaskan bahwa semua pemain harus memahami dan hidup dengan perasaan perannya masing-masing untuk bisa memerankan karakter tokoh yang hidup 650 tahun lalu. Pak Kuronuma bersama dengan Koji dan Maya beserta para pemain lainnya akhirnya pergi keluar. Pertama-tama, mereka pergi ke sebuah restoran. Di sana mereka kembali mengulang dialog perannya masing-masing dan Pak Kuronuma tampak lebih puas melihat hasilnya. Kemudian dua pemain lainnya diminta Pak Kuronuma untuk memainkan peran mereka di jembatan yang tak jauh dari restoran itu.

Isshin mengaku kepada Kusunoki bahwa dia telah jatuh cinta dengan Akoya, meskipun dia tahu kalau Akoya tidak seperti gadis-gadis biasanya. Kusunoki mengatakan pada Isshin bahwa cinta mereka akan menyebabkan kematian salah satu dari mereka berdua. Tetapi Isshin tetap yakin bahwa dia benar-benar mencintai jiwa Akoya dan cintanya itu tidak akan pernah mati meskipun oleh kematian sekalipun. Saat itu Koji terperanjat seketika dan Pak Kuronuma menghentikan dialog mereka. Pak Kuronuma memuji Koji dan dua pemain lainnya karena akting mereka bertiga jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Sementara itu, Koji masih memikirkan dialog terakhir yang diucapkan tadi.

Selanjutnya Pak Kuronuma membawa para pemain ke Shinjuku Prefecture Palace. Mereka naik ke laintai 45, dimana mereka bisa menyaksikan pemandangan indah kota Tokyo dengan Gunung Fuji sebagai latar belakangnya. Pak Kuronuma berkata kepada Maya bahwa sesuai pengamatan para astronot, bumi terlihat seperti makhluk hidup jika dilihat dari atas dan mereka merasa sangat mencintainya. Mungkin ketika mereka berada di ruang angkasa, mereka bisa melihat layaknya seperti para dewa yang mencintai makhluk hidup di bumi. Pak Kuronuma berpikir mungkin Akoya melihat alam seperti para astronot melihat bumi dari luar angkasa. Kemudian Maya berlatih sambil melihat kota Tokyo dari lantai 45 gedung itu.

Seting lain yang diambil oleh Pak Kuronuma adalah di depan patung/air mancur modern yang disebut "kuil air" dan akhirnya mereka berlatih di patung bundar, dengan beberapa bangunan seperti mencuat keluar dari dalam. Di dalam lingkaran, kita dapat melihat patung air. Dalam pikiran Kuronuma, hai ini merepresentasikan bersatunya masa lalu dan masa sekarang, ruang dan waktu, keabadian. Maya benar-benar terkesan dan mengucapkan dialog Akoya sekali lagi, dengan suara agak bergetar.

Koji memainkan perannya sebagai Isshin. Dia berbicara tentang patung Buddha, yang hanya merupakan gambaran dari seorang Buddha dan bukan Buddha yang sesungguhnya. Jadi sebenarnya patung-patung itu tidak mempunyai nilai apapun. Tetapi Koji membuatnya untuk mencegah kematian, pekerjaannya adalah ekspresi dari jiwanya. Koji bertanya kepada Pak Kuronuma, apakah dia tahu seperti apa Buddha, kehidupan dan bumi yang digambarkan oleh Isshin, tetapi sayangnya Pak Kuronuma tidak tahu harus berkata apa. Pak Kuronuma mengatakan kepada Maya dan Koji bahwa Bidadari Merah juga merupakan kisah cinta antara seorang dewi (bidadari) dengan seorang Buddha, dan para pemain tidak akan pernah bisa menunjukkan adegan klimaks sebelum mereka benar-benar mengerti tentang para dewa dan Buddha.

Hammil Khawatir dengan Kondisi Ayumi

Di Studio Undine. Bibi pengasuh Ayumi mengamati latihan Ayumi. Bibi merasa sangat khawatir ketika ingat saran dokter bahwa Ayumi sebenarnya belum boleh meninggalkan rumah sakit sebelum hasil beberapa tes kesehatannya keluar, tapi nona mudanya itu tidak mau mendengarkan saran dari dokter.

Ayumi berjalan keluar dari ruang latihan menuju ke toilet. Pandangannya mulai kabur, tapi dia akhirnya minum obat dan memutuskan untuk tidak berhenti berlatih. Di koridor, Ayumi berpapasan dengan Hammil, yang memberikan salam kepadanya, tetapi Ayumi tidak mengenali Hammil dan berlalu tanpa mempedulikannya. Hammil tampak terkejut dan sekaligus khawatir.

Ayumi mulai berlatih kembali. Para pemain membunyikan lonceng dan mengelilinginya. Dia harus memberkati mereka dengan menorehkan tinta merah dengan jarinya ke dahi mereka. Ayumi menjadi cemas karena pandangannya yang memburuk, namun kemudian Ayumi menyadari bahwa dia bisa mengetahui keberadaan mereka dari nafas mereka.

Sakurakoji dan Jiwa Sang Pemahat

Koji sedang berada di kamarnya. Dia berlatih memahat sambil memikirkan kata-kata Pak Kuronuma. Koji ingat tentang neneknya yang berdoa di kuil untuk mendoakan orang mati. Ada bermacam-macam doa yang dipanjatkan di kuil. Koji akhirnya paham bahwa doa mereka adalah untuk jiwa-jiwa orang mati. Koji mengerti bahwa bagi Isshin, jiwa-jiwa itu akan tetap hidup setelah kematian dan begitu juga dengan perasaan cinta jiwa-jiwa itu.

Akhirnya Koji pergi ke kuil dan melihat patung-patung tua. Koji terkesan dengan anggapan bahwa patung-patung itu menggambarkan kehidupan dari orang yang membuatnya. Dengan jalan ini, jiwa Buddha akan hidup selamanya dan begitu juga cinta Isshin untuk Akoya.

Kegundahan Masumi

Masumi berada di tempat dimana Maya sedang berlatih, di depan patung modern. Masumi terus bertanya pada dirinya sendiri, apa yang sedang dia lakukan, tapi dia tidak dapat menemukan jawaban.

"Mengapa aku ada di sini? Aku dengar kamu mulai latihan di sini. Apa yang sedang kamu lakukan, Maya? Apa yang sedang kamu pikirkan? Mengapa sampai sekarang aku tidak bisa berhenti memikirkanmu ?"

Lalu Masumi teringat akan kata-kata terakhir yang diucapkan Maya saat berada di tempat Bu Tsukikage. Maya percaya bahwa Masumi telah menemukan belahan jiwanya. "Apakah kamu benar-benar berpikir demikian, Maya? Dua belahan jiwa yang saling bertemu, cinta Bidadari Merah, itu sama sekali tidak ada karena pada kenyataannya... Lalu mengapa aku tidak bisa meninggalkan tempat ini? Mengapa ?"

Sementara itu, dari balik pohon, Shiori tampak sedang mengikuti Masumi. Tanpa sengaja, dia mendengar dari dua orang yang sedang berjalan bahwa tempat itu adalah tempat dimana Maya berlatih untuk Bidadari Merah. Shiori akhirnya tahu bahwa Masumi pergi ke tempat itu hanya untuk Maya, meskipun jadwalnya sangat padat. Dalam hati, Shiori berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan membuat Maya keluar dari hati Masumi.

Utako Memutuskan untuk Melatih Ayumi

Ayumi meminta dokter untuk melakukan operasi setelah pentas percobaan Bidadari Merah. Dan akhirnya Ayumi kembali berlatih di Studio Undine. Ayumi menghitung setiap langkahnya, tetapi dia tidak bisa bergerak tanpa melihat. Ayumi pun memutuskan untuk pergi ke rumah kakeknya di Akone. Ayumi ingin berkonsentrasi untuk Bidadari Merah saja saat ini. Bibi pengasuh Ayumi menemukan surat yang ditinggalkan oleh Ayumi di kamarnya. Sesaat kemudian bersama dengan Utako, ibu Ayumi, bibi pengasuh itu pergi untuk menyusul Ayumi ke Akone.

Sesampainya di sana. Utako melihat Ayumi duduk di lantai dengan lampu kamar mati, sehingga Utako meminta Ayumi untuk menyalakannya. Ayumi mengatakan kalau dia mematikan lampu karena Ayumi merasa cahaya lampu itu benar-benar mengganggunya. Utako kemudian memberikan kartu pos kepada Ayumi dan mengatakan bahwa itu dari ayahnya. Ayumi berpura-pura dia bisa membacanya, tetapi sesaat kemudian Utako menyuruh Ayumi untuk berhenti berpura-pura. Utako mengatakan bahwa sebenarnya kartu pos itu bukan dari ayahnya.

Utako menyadari betapa seriusnya kondisi kesehatan Ayumi saat itu, maka dari itu Utako menyuruh Ayumi untuk menjalani operasi tetapi Ayumi menolaknya. Kemudian Utako mengajak Ayumi untuk menganggap ruangan itu adalah sebuah teater, menyalakan semua lampu dan menyuruh putrinya untuk berakting layaknya di atas panggung. Cahaya lampu itu terlalu terang untuk Ayumi dan sangat mengganggu penglihatannya.

"Apakah kau ingin membiarkan Maya Kitajima menang ?"

Ayumi mencoba untuk tampil tetapi gerakannya sangat kaku dan dia menabrak semua yang dilaluinya. Utako menangis dan meminta Ayumi untuk berhenti. Ayumi terkejut ketika melihat ibunya menangis karena dia. Oleh karena itu, dia bertekad untuk tidak menyerah.

Utako akhirnya menemui Onodera. Dia meminta rencana teater, posisi lampu dan lain-lain. Dia memberitahu Onodera bahwa mulai saat itu, dia sendiri yang akan melatih Ayumi.

Latihan pun dimulai. Utako terus berteriak kepada Ayumi dan menegurnya ketika dia melakukan kesalahan, sambil melemparkan benda ke arah Ayumi. Pada saat makan siang, Ayumi meminta pisau untuk mengoleskan mentega kepada Utako, tetapi Utako memberikan pisau buah yang sangat tajam kepada Ayumi dengan posisi terbalik (Utako memegang gagang pisau itu dan mengarahkan mata pisau ke arah Ayumi). Ayumi menyadari ketika dia menyentuh pisau itu, tetapi ibunya mengatakan bahwa pertunjukan Bidadari Merah sama-sama berbahaya untuknya seperti memegang pisau. Ayumi meraih pisau itu dan menggenggamnya erat-erat. Tangan Ayumi pun mulai berdarah.


Share this post :
Tentang TopengKaca-Ku
TopengKaca-Ku lahir karena kecintaan yang begitu mendalam pada komik Topeng Kaca. Semoga TopengKaca-Ku bisa menjadi rumah bagi para Topeng Kaca Lovers khususnya yang ada di seluruh Indonesia. Thanks for visiting here
Jika teman-teman menyukai Artikel di TopengKaca-Ku, Silahkan klik di sini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu teman-teman akan mendapat info setiap ada artikel baru yang terbit di TopengKaca-Ku.

+ comments + 12 comments

tyas rani
25 Oktober 2010 14.06

oh nooooooo....makin seru ajeeee.....
harus buru2 digeber ni si gramed......hugh hugh hugh....

25 Oktober 2010 14.13

mari kita serbu.....
biar buru2 diterbitin di Indonesia...

masak harus nunggu berbulan2 atau bertahun2 lagi..
oh Noooooooooooo!!!!!!!

Anonim
28 Oktober 2010 14.55

gimana coba caranya supaya segera di terbitkan di indonesia??

Anonim
24 Desember 2010 08.14

ga sabarrr!!!

Anonim
4 Maret 2011 14.44

sista muti... iya mih... msh bhs asli.. nihongo ku masih nol putel.. palingan cm bisa gambatte kudasai... soo.. tolonglah translate..!!! ayo sista... kudukung spenuhnya... !!! :))

22 Maret 2011 10.12

PENGUMUMAN...

TANGGAL 30 MARET... lanjutan Bidadari Merah 11 ini bakalan nampang di toko buku terdekat dengan judul baru...

DUA AKOYA 1...

Don't Miss It... (^^,)

Anonim
23 Maret 2011 16.23

thanks sista !!
look forward the launching :)

Anonim
30 Maret 2011 16.50

DUA AKOYA nya udah terbit blm ya? (ada yg tau)

Anonim
4 April 2011 12.19

Udah...
Kemarin aku dah beli Dua Akoya 1
Seru abiss...
Ada yang beda dikit sih ama Betsuhana,
Tapi secara Alur...hampir sama
Dan yg pasti... lebih komplittt...

Fans

Anonim
17 Agustus 2011 19.59

kpn di indonseia ada buku TK Bidadari Merah 12-13,
jgn lama2 yeach....soalnya gk sabar baca komiknya...walaupun sinopsisnya udah tau tp pengen baca komiknya langsung....
^_^

29 Juli 2012 03.56

Halo mbak,salam kenal,saya mau edisi 2 akoya 1&2 masih ada?terus setelah 2 akoya itu ada lagi bukunya?tolong hubungi saya via email rany.adhita@gmail.com

28 Agustus 2012 16.52

mba mutia,ada link lain untuk download dua akoya 1? jika ada tolong beritahu saya, karna saya ngebet banget pingin baca....makasih :)

Poskan Komentar

Mohon komentar dengan baik ya.
Komentar TANPA NAMA (Anonymous) kemungkinan tidak akan direspons.

Gunakan Name/URL jika tidak mempunyai Google Accounts
- Nama: Masukkan nama Anda dengan jelas
- URL: Masukkan alamat email atau link web/blog Anda atau link Facebook account Anda.

 
Copyright © 2010. TopengKaca-Ku - All Rights Reserved
Site Owner: Mutiara Mawar Ungu